Newsletter minggu ini agak berbeda dari biasanya, gue biasanya ngebahas tentang bisnis, self development dan food and beverage industry, tapi kali ini gue mau beropini tentang politik. Opini ini gue dasari dari observasi di lapangan yang gue lakuin beberapa tahun lalu.
DPR is A Business
DPR itu sebenarnya bertugas buat mewakili rakyat. Tapi semakin kesini berdasarkan observasi gue, ini udah melenceng. DPR jadi sebuah bisnis yang ada investasi, Return on Investment dan butuh celah untuk masuk ke bisnis ini. Mungkin masih ada orang bener yang memang mau mewakili rakyat di DPR tapi sedikit.
Kebanyakan orang yang masuk ini dengan mindset bisnis. Mereka mau making money. Mereka butuh investasi awal, persis seperti bisnis, buat mulai butuh investasi. Kalo di bisnis investasi ini bisa didapet dari uang sendiri, biasa disebut bootstrap, bisa juga kita cari investor terus pitching ide bisnis kita ke mereka. DPR juga begitu. Buat yang udah punya uang, mereka pake uang sendiri, tapi buat yang ngerasa kalo uangnya ini belum cukup, mereka "cari investor". Si Calon Anggota DPR akan memastikan dengan segala cara buat ngebalikin uang investor dan ngasih keuntungan ke investor ini disaat dia nanti terpilih.
Bisa dilihat dari situ, jelas banget kenapa pada akhirnya yang terpilih ini korupsi. Kemungkinan mereka bisa balikin uang investor ini dari gaji dan segala tunjangan DPR itu kecil banget. Kalo pun bisa balikin, mereka gak bakal bisa nikmatin uang itu, karena larinya ke investor semua. Maka dari itu dibutuhkan korupsi secara langsung maupun gak langsung.
The Poor is "The Passage"
Sekarang gue jelasin kenapa masyarakat miskin itu dimanfaatin oleh Calon Anggota DPR buat jadi "celah" masuk ke DPR. Persentase masyarakat miskin dibandingkan masyarakat yang kaya, gausah kaya deh, dibandingkan masyarakat menengah, itu kan jauh lebih banyak.
Disaat pemungutan suara, suara kita kan gak ada bobot yang berbeda, orang kaya, menengah maupun miskin sama semua. Udah ketebak belum arahnya ?
Jadi masyarakat miskin ini dimanfaatin jadi "celah" dengan cara dikasih uang, dibeli suaranya dan ditambah lagi dengan serangan fajar. Gue gak nyalahin masyarakat miskin. Itu wajar banget. Siapa yang nolak dikasih uang Rp 500.000 bahkan Rp 1.000.000 disaat uang kita udah sisa beberapa ratus ribu. Pasti diterima, dengan balasan mereka yang nerima uang ini akan milih Si Calon Anggota DPR.
Bener - bener dimanfaatin, kalo misalnya semua orang punya tabungan yang banyak, dana darurat aman sampe 6 bulan kedepan, pasti akan lebih sulit buat dibeli suaranya.
Intinya adalah bisa jadi masyarakat tetap "dibiarkan miskin dan susah", supaya disetiap pemilihin itu mereka tetap punya celah buat masuk. Celah buat ngulangin lagi metode yang sama.
Sejahat itu mereka buat manfaatin orang yang lagi kesusahan demi kepentingan diri mereka sendiri.